Kiat Membangun Usaha Online Sesuai dengan Tuntunan Islam

Salah satu dampak kemajuan teknologi dalam kehidupan manusia adalah merebaknya sistem jual beli online di internet. Sesuatu yang pada zaman dahulu dianggap mustahil kini bisa diwujudkan dengan usaha manusia dalam mengembangkan teknologi. Berbisnis melalui internet kini sudah menjadi hal umum dan lumarah yang dijalankan oleh masyarakat Indonesia, khususnya yang berprofesi sebagai pedagang. Selain dijadikan sebagai pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu luang, berbisnis secara online di internet bahkan dijadikan mata pencaharian utama sebagian pebisnis, sebab keuntungan yang diberoleh dari pangsa pasar pengguna internet sangat besar. Jumlah transaksi pembeli yang berbelanja online terus meningkat dari tahun ke tahun, dan fenomena ini diprediksikan masih akan terus berlanjut dan berkembang baik dari segi pelaku dan peminatnya setidaknya selama lima tahun ke depan. Dampaknya, banyak pebisnis yang mulai melirik usaha online untuk memperoleh penghasilan.

Secara hukum Islam, jual beli online bisa sah secara hukum dengan catatan memenuhi syarat sah jual beli, yang mencakup setidaknya empat unsur, yaitu harus ada penjualnya, kemudian harus ada pihak yang membeli, juga harus ada barang yang diperjual belikan, dan yang paling penting adalah adanya kesepakatan atau ijab-qabul antara si penjual dengan pembeli. Selain itu, barang yang diperjual belikan adalah barang yang halal, dan bukan barang yang dilarang oleh syariat Islam. Selain memperhatikan syarat sah tersebut, para pedagang Islam yang akan merintis usaha online harus mempertimbangkan beberapa hal berikut ini agar usaha yang mereka jalankan sesuai dengan tuntunan Islam.

Pertama, seorang pedagang harus menjunjung tinggi nilai kejujuran. Menurut keputusan jumhur ulama yang mengikuti bahtsul masail pada Muktamar NU di Makasar pada tahun 2010, jual beli online hukumnya adalah sah. Namun, pihak penjual harus mengutamakan nilai kejujuran agar akad tersebut bisa sah, yaitu pihak penjual memperlihatkan barang yang akan dijualnya kepada calon pembeli, baik melalui foto atau dengan menyebutkan spesifikasi barang tersebut, mulai dari sifat hingga jenisnya. Pihak penjual dilarang menutup-nutupi jika ada kelemahan pada barang yang akan dijualnya tersebut.

Kedua, tidak memaksa pembeli untuk sepakat atau membeli barang yang diperjual belikannya. Dengan memaksa pembeli, berarti unsur akad atau kesepakatan antara si penjual dengan pembeli bisa gugur, karena akad harus berdasarkan suka sama suka, antara penjual dan pembeli sama-sama mengambil manfaat dari transaksi tersebut.

Ketiga, tidak ada unsur mudharat sepanjang transaksi jual beli tersebut berlangsung. Misalnya, tidak merugikan pihak lain, tidak menjual barang yang diharamkan. Dan yang paling utama, penjual tidak mengambil keuntungan yang sifatnya riba, sebab Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Itulah beberapa tuntunnan Islam kepada para pedagang yang ingin atau sedang merintis usaha online. Tuntunan tersebut perlu diperhatikan oleh para pedagang muslim agar kegiatan usaha yang dibangunannya bisa berkah dan sesuai dengan syariat Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *